Home » Rumah Adat » Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Rumah Adat Sulawesi Tenggara

3 min read

Sulawesi Tenggara atau biasa disingkat Sultra adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang terletak di bagian tenggara pulau Sulawesi dengan ibu kota provinsi adalah Kendari. Sulawesi Tenggara pada awalnya merupakan sebuah nama salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Namun pada tahun 1964 telah ditetapkan menjadi provinsi berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No.13 Tahun 1964.

Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki luas wilayah daratan seluas 38.140 km² dan perairan laut seluas 110.000 km² . Secara geografi Sulawesi Tenggara terletak di antara antara 02°45′ – 06°15′ Lintang Selatan dan 120°45′ – 124°30′ Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki jumlah penduduk sekitar 1.959.414 jiwa berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik tahun 2005.

Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Rumah adat Sulawesi Tenggara terdapat tiga, yaitu Rumah Laikas, Istana Buton, dan Benua Tada. Berikut masing-masing penjelasan rumah adat Sulawesi tenggara Tersebut.

Rumah Laikas adalah rumah adat Sulawesi Tenggara yang berasal dari suku Tolaki. Suku ini biasanya tinggal di sekitar Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Utara. Rumah Laikas juga disebut “Malige” karena berbentuk rumah panggung yang biasanya terdiri dari tiga hingga empat lantai.

Istana Buton adalah rumah istana yang dijadikan oleh para raja dari Kesultanan Buton sebagai tempat tinggal. Istana Buton dikenal dengan istilah malige atau mahligai yang berarti istan. Istana Buton dijadikan sebagai tempat tinggal keluarga sultan dan pusat pemerintahan kerajaan.

Benua Tada adalah rumah adat yang berasal dari Provinsi sulawesi Tenggara. Rumah Benua Tada merupakan rumah adat Suku Wolio atau orang buton di pulau Buton. Kara banua dalam bahasa setempat berarti rumah, sedangkan tada berarti siku, sehingga jika digabungkan berarti “rumah siku”.

Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai salah satu rumah adat Sulawesi Tenggara tersebut, yaitu rumah Istana Buton yang merupakan rumah tinggal bagi para raja-raja terdahulu di Pulau Buton yang sampai sekarang masih ada. Berikut informasi mengenai rumah adat Istana Buton.

Rumah Adat Istana Buton

Istana Buton dulunya merupakan kediaman para raja

Salah satu rumah adat di Sulawesi Tenggara adalah Istana Buton, yang terdapat di Pulau Buton. Buton merupakan sebuah pulau yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Selain cagar alam budaya kebanggaan masyarakat Buton, juga terdapat peninggalan Kerajaan Buton yang masih dapat dijumpai yaitu Istana Buton.

Istana Buton juga dikena dengan nama Malige yang berasal dari kata “Mahligai” yang bermakna istana atau Kamali yang berarti kediaman para raja. Dahulu, Istana Buton merupakan tempat tinggal keluarga sultan sekaligus pusat pemerintahaan kerajaan.

Fisolofi Istana Buton

Selain memiliki nilai historis dan juga nilai estetik yang tinggi, Istana Buton juga menyimpan banyak nilai-nilai filosofis. Diantaranya penggunaan batu alam sebagai fondasi bangunan bermakna simbol prasejarah dan pemisahan alam (alam dunia dan akhirat).

Istana Buton atau Istana Malige tampak terbagi menjadi tiga bagian yang mencirikan tiga alam kosmologi, yakni alam atas (atap), alam tengah (badan rumah), dan alam bawah (kaki/kolong). Makna-makna simbolis tersebut tampak pada komponen-komponen yang menyusun bangunan tersebut.

Struktur Bangunan Istana Buton

Miniatur Rangka Banguan Istana Buton (Image by esdenart.blogspot.com)

Struktur bangunan ini menggunakan struktur rumah panggung. Dibuat menggunakan fondasi batu alam yang disebut dengan sandi. Sandi tersebut berfungsi meletakkan tiang bangunan dan tidak ditanam hanya diletakkan begitu saja tanpa perekat. Di antara sandi dan tiang dibatasi dengan satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi, Fungsinya untuk mengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan.

Bangunan ini kokoh berdiri dengan topangan 40 tiang penopang. Di bagian depan terdapar lima tiang yang berderet hingga delapan baris ke belakang. Tiang utama pada bangunan ini disebut dengan tutumbu yang berarti selalu tumbuh.

Struktur bangunan Istana Buton pada dasarnya adalah sama karena berasal dari satu konstruksi yang sama yang disebut banuwa tada. Namun, ketika rumah tersebut difungsikan sebagai rumah para pejabat, terdapat penambah tiang penyangga yang berfungsi sebagai kambero (kipas), sehingga disebut dengan benua tada kambero atau Istana Kamali

Keunikan Rumah Istana Buton

Keunikan rumah adat Sulawesi Tenggara atau Istana Buton terletak pada bangunan istana yang terdiri atas empat lantai dan terbuat dari kayu yang berasal dari Pohon Wala dan lantai bangunan terbuat dari Kayu Jati. Selain itu, pembangunan Rumah Istana Buton cukup unik, karena tidak menggunakan paku. Dimana bilah-bilah kayu hanya dikaitkan satu sama lain agar merekat dengan kokoh.

Bagian-Bagian Rumah Buton

Istana Buton dibangun tidak menggunakan pakuu (Image by esdenart.blogspot.com)

Lantai pertama terdiri atas tujuh petak atau ruangan.

  • Ruangan pertama dan kedua berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton.
  • Ruangan ketiga dibagi  dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur dan yang sebelah kanan berfungsi sebagai ruang makan tamu.
  • Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebagai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah.
  • Ruang kelima sebagai kamar makan Sultan dan kamar tamu bagian dalam.
  • Ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan dipergunakan sebagai kamar anak perempuan Sultan, dan kamar laki-laki sultang yang dewasa.

Lantai kedua terdiri atas 14 buah kamar yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu tujuh kamar di sisi sebelah kanan dan tujuh kamar di sisi sebelah kiri.

  • Setiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat tujuh tangga di sebelah kiri dan tujuh tangga di sebelah kanan, seluruhnya ada 14 buah tangga. Kamar-kamar tersebut berfungsi sebagai ruang tamu keluarga, kantor, dan gudang.
  • Kamar besar yang terletak di depan adalah rumah tinggal keluarga sultan dan yang lebih besar lagi adalah aula.

Lantai ketiga digunakan sebagai tempat istirahat dan bersantai keluarga.

Lantai keempat digunakan untuk tempat menjemur pakaian keuarga kerajaan.

Di samping bagunan utama Istana Buton terdapat bangunan kecil yang difungsikan sebagai dapir dan kamar mandi. Bnagunan tersebut dihubungkan oleh satu gang di atas tiang bangunan utama.

Baca: Rumah Adat Sulawesi Selatan

Nah, itulah informasi lengkap mengenai rumah adat Sulawesi Tenggara atau rumah adat Istana Buton, mulai dari struktur, keunikan, filosofi, dan bagian-bagian ruangan rumah Istana Buton. Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai informasi tentang rumah-rumah adat nusantaara dan semoga bermanfaat.

Rumah Adat DKI Jakarta

Mas Poer
2 min read

Rumah Adat Maluku

Mas Poer
2 min read

Rumah Adat Jawa Tengah

Mas Poer
4 min read

Rumah Adat Lampung

Mas Poer
3 min read

Rumah Adat Bengkulu

Mas Poer
2 min read

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Mas Poer
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *