Home » Rumah Adat » Rumah Adat Maluku

Rumah Adat Maluku

2 min read

Jika memasuki desa atau kampung di Maluku, salah satu hal yang segera nampak menonjol adalah satu bangunan yang berbeda degan kebanyakan rumah penduduknya. Bangunan ini biasanya berukuran besar, dibangun dengan bahan-bahan yang lebih baik, dan dihias dengan lebih banyak ornamen. Karena itu, bangunan tersebut biasanya sekaligus juga merupakan marka utama (landmark) kampung atau desa yang bersangkutan, selain masjid dan gereja. Bangunan tersebut adalah rumah adat Maluku.

Rumah Adat Maluku

Rumah Baileo

Rumah adat Maluku adalah Rumah Baileo. Rumah Baileo merupakan rumah yang merepresentasi kebudayaan dari masyarakat Maluku, dan memiliki fungsi yang sangat penting. Rumah adat Baileo memiliki ciri berukuran besar, dan memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah-rumah masyarakat Maluku di sekitarnya. Rumah Baileo memiliki makna sejarah sebagai komunitas pada zamannya dan kemajuan sebuah peradaban.

Fungsi dari Rumah Baileo adalah untuk tempat bermusyawarah dan pertemuan rakyat dengan dewan rakyat seperti saniri negeri, Dewan adat dan lain-lain. Jadi sistem demokrasi sudah dikenal oleh rakyat lima-siwa sejak dulu. Yang boleh disimpan dalam baileo berupa benda-benda yang dianggap suci dan ada hubungan dengan upacara adat. Selain itu juga terdapat satu buah atau musyawarah antara rakyat dan saniri neheri dan tua-tua adat.

Nama Rumah Baileo menggunakan istilah “Baileo” sebagai namanya, karena memang dimaksudkan sebagai “balai bersama” organisasi rakyat dan masyarakat adat setempat untuk membahas berbagai masalah yang mereka hadapi dan mengupayakan pemecahannya.

Baileo atau Balai Adat inilah yang menjadi bangunan induk Anjungan. Sembilan tiang di bagian depan dan belakang, serta lima tiang di sisi kiri dan kanan merupakan lambang Siwa Lima, yaitu simbol persekutuan desa-desa di Maluku yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Dalam memperkenalkan daerahnya menampilkan bangunan Baileo dan rumah Latu atau rumah raja. Bertindak sebagai sreitek adalah Kepala adat di seluruh daerah Maluku, dan dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 April 1975.

Bangunan Baileo ini merupakan satu-satunya bangunan peninggalan yang menggambarkan kebudayaan siwa-lima, karena itulah dipilih sebagai bangunan yang dapat mewakili daerah propinsi Maluku. Di samping kedua bangunan tradisional tersebut, anjungan Maluku dilengkapi dengan dua buah patung pahlawan wanita Martha Christina Tiahahu dan patung pahlawan Pattimura atau Thomas Matulessy, sebuah kolam yang menggambarkan kebon laut Maluku, dan patung proses pengolahan sagu.

Arsitektur Rumah Baileo

Arsitektur rumah baileo

Rumah Baileo sebagai bangunan induk aslinya tidak berdinding dan merupakan rumah panggung, yakni lantainya tinggi di atas permukaan tanah. Adapula baileo yang lantainya di atas batu semen dan baileo yang lantainya rata dengan tanah. Di antara ketiga macam baileo ini yang paling lazim dan paling khas adalah yang lantainya dibangun di atas tiang. Jumlah tiangnya melambangkan jumlah klen-klen yang ada di desa tersebut.

Baileo ini tidak berdinding mengandung maksud roh-roh nenek moyang mereka bebas masuk keluar bangunan tersebut. Sedang lantai baileo dibuat tinggi dimaksudkan agar kedudukan tempat bersemayam roh-roh nenek moyang tersebut lebih tinggi dari tempat berdiri rakyat di desa itu. Selain rakyat akan mengetahui bahwa permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas.

Bentuk rumah Baileo yang ada di Taman Mini Indonesia Indah adalah bentuk rumah yang terakhir atau yang baru yang melambangkan persatuan atau persekutuan antara dua klen besar di Maluku yaitu Pata Siwa dan Pata Lima. Hal ini melambangkan jumlah pada tiang rumah Baileo di bagian muka dan belakang berjumlah 9 yang sama dengan siswa dan samping kiri dan kanan berjumlah 5 yang sama dengan lima. Akhir kata siwa lima mampunyai arti baru yaitu: Kita semua punya dan menjadi lambang persatuan daerah Maluku.

Batu Pamali

Batu pamali

Hal yang menarik dari rumah adat Maluku adalah terdapat batu besar yang terdapat di muka pintu bangunan yang disebuat Batu Pamali, Batu Pamali adalah sebuah tempat meletakkan sesaji di muka pintu bangunan di Maluku, yang merupakan tanda bahwa bangunan tersebut adalah Balai Adat. Pamali berfungsi sebagai tempat persembahan dan bilik pamali sebagai tempat penyimpanan atau tempat meletakkan barang-barang yagn dianggap suci pada saat diadakan upacara.

Ragam Hias Rumah Baileo

Rumah baileo memiliki banyak ukiran bergambar, misalnya ukiran dua ekor ayam yang berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri dan kananya. Ukiran tersebut mempunyai arti dan perlambang tentang kedamaian dan kemakmuran. Hal tersebut terjadi karena roh nenek moyang yang menjaga masyarakat Maluku. Biasanya ukiran ini terletak di depan pintu.

Ukiran lainnya adalah matahari, bulan, dan bintang yang terletak di atap rumah dengan warna merah, kuning, dan hitam. Ukiran tersebut melambangkan kesiapan balai adat dalam menjaga keutuhan adat beserta hukum adatnya.

Nah, itulah artikel mengenai rumah adat provinsi Maluku yaitu Rumah Baileo, mulai dari arsitektur dan keunikan. Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai rumah-rumah Adat nusantara, dan semoga bermanfaat.

Referensi:

https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/

Rumah Adat DKI Jakarta

Mas Poer
2 min read

Rumah Adat Jawa Tengah

Mas Poer
4 min read

Rumah Adat Lampung

Mas Poer
3 min read

Rumah Adat Bengkulu

Mas Poer
2 min read

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Mas Poer
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *